ACEH UTARA — Kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Seuramo Aneuk Nanggroe di Desa Dayah, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, tak sekadar menghadirkan gizi seimbang bagi generasi penerus bangsa. Di balik piring-piring makanan yang tersaji untuk anak-anak sekolah, terdapat roda perekonomian warga dan UMKM lokal yang kini berputar lebih kencang, membawa harapan baru bagi para tulang punggung keluarga.
Dapur SPPG ini memiliki denyut aktivitas yang masif setiap harinya. Sebanyak 24 titik penyaluran yang mencakup jenjang PAUD, TK, SLB Bina Bangsa, SD, SMP, hingga sasaran balita, ibu hamil, dan ibu menyusui (B3) di 11 desa menjadi penerima manfaat. Skala penyaluran ini membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar setiap hari.
“Dalam sehari kita menghabiskan 290 kg ayam, 100 hingga 120 kg dua jenis sayur per hari. Kalau buah semangka per hari 270 kg, dan kalau jeruk mencapai 290 kg per hari,” ujar Sofyan, Asisten Lapangan (Aslap) SPPG setempat.
Kebutuhan bahan pangan yang jumbo tersebut menjadi angin segar bagi para pemasok lokal. Mursalin (27), pemuda asal Meunasah Asan, Kecamatan Pirak Timu, adalah salah satu supplier yang merasakan langsung dampak sosial dan ekonomi dari kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini. Sebagai pemasok sayur, buah, serta daging ayam, Mursalin menyerap hasil panen dari petani lokal. Jika pasokan lokal belum mencukupi, barulah kekurangan tersebut dipenuhi dari luar daerah.
Bagi Mursalin, menjadi mitra pemasok SPPG bukan sekadar urusan bisnis, melainkan penyambung nafas bagi keluarganya. Sebagai anak, ia kini memikul tanggung jawab besar menggantikan sang ayah yang telah lansia dan tidak mampu lagi bekerja berat. Dari pendapatan sebagai pemasok inilah Mursalin menafkahi ayah, ibu, serta membiayai pendidikan adiknya yang masih duduk di bangku SMA.
“Saya berharap program MBG ini bisa berjalan dan terus berlanjut. Ini bukan hanya membantu petani lokal, tapi juga sangat membantu perekonomian masyarakat, seperti halnya saya sebagai pemasok barang. Pemasukan saya di sini saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari bersama orang tua dan kedua adik saya,” tutur Mursalin penuh harap. Prioritasnya saat ini adalah memastikan roda dapur rumah tangganya tetap ngebul dan adiknya selesai menempuh pendidikan.
Dampak kesejahteraan dari SPPG Yayasan Seuramo Aneuk Nanggroe ini tidak berhenti di rantai pasok bahan baku semata. Operasional dapur dipขับ bergerak oleh 50 personel—termasuk manajer, asisten lapangan, kepala dapur, ahli gizi, akuntan, hingga 47 relawan. Menariknya, 70 persen pekerja merupakan warga setempat, di mana 8 di antaranya adalah ibu rumah tangga (IRT), serta pemuda-pemudi yang menjadi tulang punggung keluarga.
Salah satu cerita ketangguhan itu datang dari Jamaluddin (30), warga Meunasah Rayeuk, Lhoksukon. Sebelum bergabung sebagai relawan bagian pemorsian, pria berstatus menikah ini harus menyambung hidup dengan pekerjaan serabutan dan menjadi buruh bangunan. Kini, sejak pukul 04.00 hingga 10.00 WIB setiap harinya, Jamaluddin memiliki penghasilan dan kepastian kerja yang lebih layak untuk menafkahi keluarganya.
Melalui sinergi antara pemenuhan gizi anak bangsa dan pemberdayaan ekonomi lokal, SPPG di Syamtalira Aron ini membuktikan bahwa program MBG mampu menjadi pendorong kesejahteraan: menyerap hasil tani, memutar modal UMKM pemasok, serta memberi penghidupan yang lebih bermartabat bagi masyarakat kecil di Aceh Utara.[]







