ACEH UTARA – Beredar sebuah video aksi seorang pengemis pria yang melakukan tindakan pemaksaan saat meminta sedekah di area kemacetan di kawasan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara membuat masyarakat resah. Pengemis itu bersikap tidak sopan seperti pemabuk.
Berdasarkan unggahan yang beredar luas di platform TikTok dan Facebook, pria berpakaian lusuh tersebut tampak mendekati kendaraan yang tengah terjebak kemacetan maupun yang sedang parkir. Pria yang identitasnya belum diketahui ini secara agresif menggedor kaca dan pintu mobil pengguna jalan dengan keras.
Dalam salah satu potongan video, terlihat pemilik kendaraan awalnya berupaya tenang menghadapi ketukan tersebut. Namun, suasana berubah tegang saat sang pengemis justru semakin beringas menghantam badan mobil layaknya aksi premanisme karena tidak segera diberikan uang.
“Fenomena ini sangat meresahkan. Berdasarkan laporan masyarakat di kolom komentar media sosial, pria tersebut tidak hanya beroperasi di satu titik, melainkan berpindah-pindah mulai dari kawasan Panton Labu hingga Pasar Inpres Kota Lhokseumawe,” demikian narasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Sejumlah pedagang dan pengendara mengaku kerap menjadi sasaran. Jika permintaan uang tidak dipenuhi, sang pengemis itu tak segan-segan melakukan tindakan yang mengganggu kenyamanan dan ketertiban umum.
Menyikapi situasi yang kian tak terkendali ini, tokoh pemuda Aceh Utara, Jamaluddin Idris mendesak pemerintah daerah melalui dinas terkait dan aparat keamanan untuk segera mengambil tindakan tegas.
“Kami meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, khususnya Satpol PP dan Dinas Sosial, untuk segera menangkap dan mengamankan pria tersebut. Jika ia berasal dari luar daerah, segera kembalikan ke asalnya,” tegas Jamaluddin.
Ia menambahkan bahwa membiarkan perilaku seperti itu sama saja dengan membiarkan aksi premanisme jalanan tumbuh subur dengan kedok meminta sedekah.
“Keberadaannya sudah sangat mengganggu pengguna jalan dan merusak citra daerah. Jangan sampai masyarakat mengambil tindakan sendiri karena merasa tidak nyaman dan terancam saat melintas di wilayah kita,” pungkasnya.[]








