Lhoksukon – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo bersama Wakil Bupati Aceh Utara Tarmizi Panyang meresmikan pengoperasian kembali Bendungan Krueng Pase di Desa Leubok Tuwe, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, Selasa, guna menjamin ketersediaan air bagi 8.922 hektare sawah di wilayah tersebut.
“Pengoperasian kembali bendungan ini menandai berakhirnya masa sulit petani di sembilan kecamatan yang selama lima tahun terakhir terpaksa mengandalkan air hujan akibat kerusakan struktur bendungan sejak 2020,” kata Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, Muntasir Ramli di Lhoksukon, Selasa.
Muntasir menjelaskan bahwa kunjungan Menteri PU yang didampingi Wakil Bupati Tarmizi Panyang, Kepala Dinas PUPR Aceh Utara Ir. Jafar, dan Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Asyari tersebut, bertujuan memastikan infrastruktur Proyek Strategis Nasional (PSN) itu siap beroperasi pascarehabilitasi total.
Dalam peresmian tersebut, Menteri PU secara simbolis menekan tombol pengatur air sebagai tanda dimulainya distribusi aliran irigasi ke dua daerah utama, yakni Daerah Irigasi (DI) Pase Kiri dan DI Pase Kanan.
Proyek pemulihan yang dikelola oleh BWS Sumatera I ini mencakup perbaikan jaringan irigasi yang luas, terdiri atas saluran induk sepanjang 32,82 kilometer, saluran sekunder 112,36 kilometer, serta jaringan tersier.
“Perbaikan ini mengembalikan layanan irigasi pada area kanan seluas 5.614 hektare dan area kiri seluas 3.308 hektare,” ujar Muntasir.
Infrastruktur peninggalan era kolonial Belanda ini sebelumnya mengalami kerusakan berat akibat terjangan banjir besar pada tahun 2020. Proses perbaikan yang dimulai sejak 2021 sempat terkendala oleh beberapa kali bencana banjir susulan yang menghambat pengerjaan fisik di lapangan.
Kini, air dari bendungan tersebut akan mengalir ke sembilan kecamatan, meliputi Meurah Mulia, Samudera, Syamtalira Bayu, Matang Kuli, Syamtalira Aron, Tanah Luas, Nibong, dan Tanah Pasir di Kabupaten Aceh Utara, serta Kecamatan Blang Mangat di Kota Lhokseumawe.
Muntasir menambahkan, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Pusat melalui Kementerian PU atas penyelesaian proyek ini yang menjadi urat nadi perekonomian petani setempat. Tercatat, selama masa kerusakan bendungan, petani di wilayah tersebut sempat mengalami hingga 13 kali gagal panen.
“Dengan adanya perhatian pusat, petani kini sudah bisa kembali turun ke sawah. Kami juga berharap Pemerintah Pusat dapat segera menindaklanjuti revitalisasi 18.000 hektare lahan sawah lainnya yang terdampak banjir dan material lumpur beberapa waktu lalu,” demikian Muntasir Ramli.







