Lhokseumawe – Suasana Aula Lama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh berubah bak bioskop mini saat Program Studi Ilmu Komunikasi menggelar “Its Movie Time”, Senin (20/7/2026).
Ajang ini menjadi panggung bagi mahasiswa semester VI angkatan 2023 untuk memamerkan karya film pendek hasil kreativitas mereka selama mengikuti mata kuliah Sinematografi.
Sebanyak 25 film pendek berhasil diproduksi mahasiswa, sementara sembilan karya terbaik dipilih untuk diputar di hadapan dosen, praktisi, dan rekan mahasiswa. Beragam cerita pun hadir di layar, mulai dari dinamika kehidupan kampus, fenomena sosial, hingga kisah-kisah inspiratif yang sarat pesan moral dan edukasi.
Bukan sekadar menonton, penonton juga diajak menyelami proses kreatif di balik layar. Setiap film menjadi bukti bahwa ide sederhana mampu disulap menjadi karya visual yang menarik melalui sentuhan kreativitas, kerja sama tim, dan kemampuan bercerita.
Dosen pengampu mata kuliah Sinematografi, Cindenia Puspasari, M.Soc.Sc., mengatakan Its Movie Time merupakan ruang bagi mahasiswa untuk merasakan langsung proses produksi film, mulai dari merancang ide cerita, mengambil gambar, hingga menyunting hasil rekaman menjadi sebuah karya utuh.
“Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat langsung dalam seluruh tahapan produksi film. Kami berharap mereka mampu melihat realitas sosial secara kritis dan mengolahnya menjadi karya yang kreatif serta bermakna,” ujarnya.
Menurut Cindenia, kegiatan ini telah menjadi agenda tahunan Program Studi Ilmu Komunikasi sebagai wadah apresiasi sekaligus pembuktian bahwa pembelajaran di kelas mampu melahirkan karya yang siap dipertontonkan kepada publik.
Keseruan berlanjut saat sesi diskusi dan bedah film bersama dua orang dosen ilmu komunikasi lainnya Muchlis, M.Sos., dan Dr. Muhammad Fazil, M.Soc.Sc. Keduanya mengapresiasi perkembangan kualitas karya mahasiswa sekaligus memberikan masukan agar produksi film berikutnya semakin matang.
Muhammad Fazil menilai kemampuan mahasiswa dalam membangun cerita terus mengalami peningkatan, meski penguatan alur dan konflik masih perlu diasah agar pesan film semakin kuat menyentuh penonton.
Sementara itu, Muchlis menyoroti pentingnya detail teknis, seperti pencahayaan, kualitas audio, dan pergerakan kamera untuk menghadirkan pengalaman menonton yang lebih emosional dan sinematik.
Sementara itu, Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi, Awaluddin, M.I.Kom., menyebut Its Movie Time sebagai bukti nyata komitmen program studi dalam melahirkan talenta-talenta muda di bidang industri kreatif.
“Melalui Its Movie Time, kita tunjukkan bahwa proses pembelajaran di kelas dapat diwujudkan dalam karya nyata yang memiliki nilai akademik sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
Dengan semangat berkarya yang terus menyala, Its Movie Time bukan hanya menjadi ajang pemutaran film, tetapi juga panggung lahirnya sineas-sineas muda yang siap membawa cerita lokal ke layar yang lebih luas.(*)







