Opini

Menulis dengan pikiran atau pakai hasil kerja AI?

Oleh: Mukhlis Azmi

Kehadiran kecerdasan buatan atau yang lebih populer disebut AI (artificial intelligence), akhir-akhir ini benar-benar mengubah banyak hal, seperti cara manusia bekerja, berkarya atau belajar. Dalam dunia kepenulisan, saya melihat orang-orang di sekeliling bisa membuat esai, artikel atau produk jurnalistik, bahkan karya ilmiah cuma dengan langkah sederhana, dan hasilnya keluar cepat sekali, sehingga memunculkan pertanyaan, apakah boleh pakai AI untuk karya tulis seperti itu?

Sebagian orang tidak setuju pakai AI. Menurut mereka, menulis itu soal berpikir sendiri, menyusun argumen dari data yang diolah, dan merefleksikan ide-ide. Kalau AI yang ngurus semuanya, rasanya seperti kita cuma copy-paste dari mesin, tanpa benar-benar mikir. Kekhawatiran ini masuk akal, karena kalau terbiasa instan, nanti kemampuan kritis atau kreatif bisa hilang pelan-pelan. Orang mungkin lebih suka minta AI ringkas buku daripada baca sendiri, dan itu bisa jadi masalah jangka panjang.

Tapi, sebagian orang juga beranggapan menolak AI sepenuhnya juga tidak realistis. Lihat saja sejarah, dulu pas mesin tik muncul, orang-orang takut keterampilan tulis tangan akan hilang, atau ketika komputer muncul, katanya manusia bakal ketergantungan. Nyatanya, justru bikin kita lebih produktif. AI kemungkinan juga sama, bisa jadi alat bantu untuk cari ide awal atau memperbaiki kalimat. Saya pikir, yang penting bagaimana cara pemakaiannya, bukan berasumsi manusia lawan mesin.

Kemudian, masalah yang sering kabur adalah garis batas antara “membantu” dan “menggantikan”. Kalau seorang penulis serahkan semua ke AI tanpa berpikir, maka tulisannya jadi bukan milik pribadi, lebih seperti hasil algoritma. Di sekolah atau kampus, ini bisa dianggap curang, hampir seperti plagiarisme. Lalu soal transparansi, apakah harus bilang kalau pakai AI? Banyak lembaga pendidikan sekarang mulai membuat aturan. Boleh pakai asal disertai dengan pengakuan. Itu penting buat menjaga kejujuran akademik sekaligus memberikan konteks bagi pembaca.

Di luar akademik, seperti di media dan kepenulisan profesional, AI bisa bikin kreativitas penulis hilang. Pembaca mau perspektif pribadi, dari pengalaman, bukan yang rata-rata dari data AI. Kalau semua pakai AI, tulisan bisa jadi mirip-mirip, tidak ada keunikan atau khas. Keberagaman ide itu yang bikin literasi kaya, dan mesin tak selalu bisa meniru itu. AI tidak punya kesadaran atau moral, semuanya balik lagi ke manusia yang pakai.

Integritas penulis jadi kuncinya. Apakah AI dipakai untuk menambah pemikiran, atau cuma malas mikir? Harus verifikasi dan edit sendiri, bukan langsung terima. Dunia pendidikan seharusnya mengajarkan ini, bukan melarangnya mentah-mentah. Siswa perlu tahu AI bisa mempercepat riset, tapi tidak dapat mengganti pemahaman mendalam atau pikiran unik manusia. Saya rasa, itu yang bikin beda.

Pada akhirnya, pertanyaan “menulis dengan pikiran atau pakai hasil kerja AI?” kurang tepat, karena manusia tidak mampu membendung kemajuan teknologi dan hakikatnya manusia itu berpikir. Pertanyaan lebih tepat adalah “bijakkah manusia menggunakan AI?”. Maka tergantung konteks dan cara. Bisa jadi mitra dan alat bantu yang bagus kalau bijak, tapi bisa rusak proses menulis kalau tidak bijak dalam menggunakannya. Menulis itu manusiawi, ada keraguan, refleksi dan pencarian. Kalau AI menghilangkan itu, yang rugi bukan cuma tulisan, tapi cara kita berpikir. Pilihan ada di tangan kita sebagai penulis, bijak atau tidak.

Penulis adalah Guru SMKS Ulumuddin Lhokseumawe

CUT ISLAMANDA

Nama lengkap Saya Jamaluddin, S.Kom Kalau Jamal lain yang tidak punya S.Kom berarti itu bukan Saya.

Recent Posts

Polres Lhokseumawe Tertibkan 1.175 Knalpot Brong, Enam Motor Tanpa Dokumen Diamankan

Lhokseumawe – Polres Lhokseumawe melalui Satuan Lalu Lintas terus berkomitmen menciptakan keamanan, ketertiban, dan kenyamanan…

2 jam ago

Awali Tugas dengan Pembinaan Rohani, Personel Polres Lhokseumawe Ikuti Binrohtal

Lhokseumawe – Polres Lhokseumawe melaksanakan kegiatan Pembinaan Rohani dan Mental (Binrohtal) secara virtual melalui Biro…

8 jam ago

Satbinmas Polres Lhokseumawe Edukasi Pelajar SMAN 1 Dewantara tentang Bahaya Narkoba, Bullying dan Hoaks

Aceh Utara – Satbinmas Polres Lhokseumawe bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara memberikan edukasi kepada…

8 jam ago

Polsek Muara Satu Kawal Pasar Murah, Dukung Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok

Lhokseumawe – Polsek Muara Satu Polres Lhokseumawe melaksanakan pengamanan kegiatan pasar murah yang digelar Dinas…

8 jam ago

Cegah Karhutla Sejak Dini, Polsek Meurah Mulia Turun Sosialisasi ke Desa

Aceh Utara – Personel Polsek Meurah Mulia Polres Lhokseumawe melaksanakan patroli malam sekaligus menyosialisasikan pencegahan…

8 jam ago

Kapolres Lhokseumawe Ajak Jihad Lawan Narkoba, 6 Kasus Berhasil Diungkap

Lhokseumawe – Perang terhadap narkoba bukan hanya menjadi tanggung jawab Kepolisian, tetapi merupakan perjuangan bersama…

8 jam ago